About

Senin, 20 Februari 2012

Macet, macet dan macet ,,,,,,,,,,,,

"macet lagi, macet lagi
gara-gara si komo lewat
"

lirik tadi merupakan lirik lagu si komo lewat jalan tol yang dipopulerkan di tahun 1992 ,,, yang sedikit banyak mengisahkan jalanan yang sudah tidak dapat mengakomodir banyaknya jumlah kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya...



Macet,,, mungkin kata ini sudah familiar terdengung di telinga kita terutama yg berdomisi di wilayah Jabodetabek,,,

Kemacetan dapat terjadi karena beberapa alasan:
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kemacetan)

* Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan
* Terjadi kecelakaan lalu-lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran, karena masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaraan yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas,
* Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan
* Ada perbaikan jalan,
* Bagian jalan tertentu yang longsor
* kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene tsunami.
* Karena adanya pemakai jalan yang tidak tahu aturan lalu lintas, spt : berjalan lambat di lajur kanan dsb.
* Adanya parkir liar dari sebuah kegiatan.
* Pasar tumpah yang secara tidak langsung memakan badan jalan sehingga pada akhirnya membuat sebuah antrian terhadap sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.
* Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas


Dampak negatif kemacetan

Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang besar yang antara lain disebabkan:

* Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah
* Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah,
* Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi,
* Meningkatkan polusi udara karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal,
* Meningkatkan stress pengguna jalan,
* Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya


Pemecahan permasalahan kemacetan

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehentip yang biasanya meliputi langkah-langkah diantaranya sebagai berikut:
* Peningkatan kapasitas
* Keberpihakan kepada angkutan umum
* Pembatasan kendaraan pribadi


Sebetulnya, overall minimal jika masing-masing dari kita disiplin dalam berkendara setidaknya dapat sedikit mengurangi kemacetan tersebut, kita sudah ketahui bersama bahwa jalanan sudah tidak lagi dapat mengakomodir laju pertambahan kendaraan dalam setiap tahunnya.

Sekelumit permasalahan kemacetan ini mestinya dicari solusi yang paling tepat sehingga seluruh pengguna jalan dapat merasakan nyamannya berkendara, yang tentunya kewajiban dari seluruh aspek masyarakat...

Wallahu a'lam


^_^

Minggu, 19 Februari 2012

Starting to write (re-Write)


Finally, akhirnya di awal kuartal 2012 ini terbersit keinginan untuk menulis di blog lagi (gak tau deh blog hasil yang dulu pada kemana nasib nya? :D )

Mudah-mudahan dapat dihasilkan tulisan, artikel maupun hal-hal lain yang tentunya dapat berguna...

you'll never know until you try ^_^

Apakah Anak-ku harus rangking 1?

beberapa hari yang lalu saat sedang browsing tanpa sengaja melihat postingan ini, "honestly" isinya sesuai sedang yang mungkin banyak yang dirasakan banyak "adik",,, bimbinglah "adik kami" dengan baik... Please cekidot ^_^ ......



Posted on 7 Februari 2012 by annasahmad

Si ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”
Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?
Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?
Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.
Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.
Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.
Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.
Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.
Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.
Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.
Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.
Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.
Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.
Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.
Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.
Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?
Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?
Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

-Anakmu bukan milikmu.
-Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
-Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
-Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
-Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
-Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
-Patut kau berikan rumah untuk raganya,
-Tapi tidak untuk jiwanya,
-Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
-Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
-Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
-Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
-Pun tidak tenggelam di masa lampau.
-Kaulah busur, dan anak-anakmulahAnak panah yang meluncur.
-Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
-Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
-Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
-Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
-Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
-Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

Khalil Gibran
Kisah ini juga di tulis di beberapa milis.

Pisang ,,, makanan sehat bernutrisi


Pisang,,,, siapa yang gak kenal buah yang satu ini ya,,, dari bayi juga sepertinya kita udah kenal...
Kebetulan sore ini dapat forward artikel tentang pisang yang menurut saya cukup bermanfaat... silakan cekidot,,,


Pisang

Pisang Emas, Musa Aromatica, sekarang-sekarang terbaur dengan pisang muli/ mahuli/ uli... memang di beberapa daerah yang mereka sebut pisang emas sebetulnya adalah pisang muli, pisang muli sendiri sebetulnya masih turunan dari jenis pisang raja.. dari bentuk saja pisang mahuli lebih ramping dan runcing, sementara pisang emas berfisik buntet, gendut, montok dengan warna kuning yang lebih tua dan ngejreng… dari rasa apalgi.. semua jenis pisang emas, manis, legit dengan tekstur lembut sementara pisang mahuli/uli agak keset.

Kelembutan dagingnya bisa dikatakan ciri utama, oleh karenanya di kambodja pisang emas ini juga di sebut pisang telur, karena tekstur kelembutannya dagingnya menyerupai tekstur putih telur rebus... Dan ternyata pengistilahan oleh 'masyrakat tradisional ndeso' ini tidak salah sama sekali, karena penelitian laboratorium mengungkap pisang mengandung zat putih telur, dan pisang emaslah yang terbanyak...

Menurut penelitian pisang mengandung antara lain :
Vitamin A, B1, C
Lemak
Mineral (Kalium, chlor, natrium, magnesium, posfor )
Karbohidrat
Dextrose
Air
Sucrose
Levulose
Zat Putih telur
Zat Tepung

Di Kambodja sejarah panjang pisang emas dapat di telusuri untuk melihat asal-usul dan keterkaitan sejarah dengan kehidupan lampau, karena sampai sekarang tradisi itu tetap dipelihara dan terpelihara 'sejarahnya' dalam banyak cerita rakyat... pisang emas menjadi salah satu identitas kambodja, walau produsen terbesarnya saat ini adalah Thailand... dan pemasok 50% pisang ke asia adalah indonesia.

Pisang Emas adalah salah satu jenis yang terlokalisir menjadi menu sajen atau upacara adat tradisional di Indonesia, sehingga semakin menjauh dari ketertarikan masyarakat... Namun, (kontradiksinya), pisang emas yang jauh dari pasar indonesia justru diproduksi dan masuk ke industri eksport... anda bisa googling resep-resep eropa atau buleid menggunakan atau memilih pisang emas sebagai pilihan high class untuk olahan makanan pisang... saya juga mengetahuinya saat kuliah dan bekerja dulu sekali di hotel dan restoran bintang internasional...

Dalam kajian ilmiahnya terdapat dua persepsi yang mengatakan pisang emas berawal dari afrika sebelum masuk ke asia, dan persepsi yang menyatakan pisang emas adalah hasil bumi asli kawasan asia tenggara.... saya post tentang kedudukan pisang emas di kambodja di paragraf awal di atas tadi adalah untuk alasan ini, bahwa pisang emas terdapat dalam catatan sejarah yang jauh lebih silam dari apa yang dikatakan ahli sejarah alam berasal dari afrika masuk ke asia pada masa kejayaan kekaisaran timur-tengah menyebar ke asia... bahkan ada juga yang berpendapat pisang tersebut terbawa bersama penyebaran islam ke asia.... ( karena pisang tercantum dalam sebuah ayat di alqur'an kali ya..?! :D )

Oleh karena itu saya akan mengangkat sejarahnya dari persepsi tanaman asli asia tenggara..
http://migroplus.com/brosur/Budidaya%20pisang.pdf

SEJARAH PISANG
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah, juga ke semenanjung selatan Eropa (spanyol, itali).

Tumbuhan pisang menyukai daerah alam terbuka yang cukup sinar matahari , cocok tumbuh didataran rendah sampai pada ketinggian 1000 meter lebih diatas permukaan laut. Pada dasarnya tanaman pisang merupakan tumbuhan yang tidak memiliki batang sejati. Batang pohonnya terbentuk dari perkembangan dan pertumbuhan pelepah pelepah yang mengelilingi poros lunak panjang , Batang pisang yang sebenarnya terdapat pada bonggol yang tersembunyi di dalam tanah.

Nama Lokal :
Banana (Inggris) , Tsiu, Cha (Cina), Pisyanga, Kila (India); Pisang (Indonesia), Klue (Thailand), Pyaw, Nget (Burma); Gedang (Jawa), Cau (Sunda), Biu (Bali), Puti (Lampung); Wusak lambi, lutu (Gorontalo), Kulo (Ambon), Uki (Timor)

Pusat Penanaman
Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon. Indonesia termasuk salah satu negara tropis yang memasok pisang segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997 adalah ke Cina.

Botani
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Famili : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa spp.

Jenis
Jenis pisang antara lain :
Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak, yaitu M. paradisiaca var. Sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis. Contohnya: Pisang Ambon, Pisang Susu, Pisang Raja, Pisang Cavendish, Pisang Barangan dan Pisang Mas.
Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak, yaitu M. paradisiaca forma typica atau disebut juga M. paradisiaca normalis. Contohnya: Pisang Nangka, Pisang Tanduk, dan Pisang Kepok.
Pisang berbiji, yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya. Contonya: Pisang Batu dan Pisang Klutuk.
Pisang yang diambil seratnya, contonnya Pisang Manila (Abaca).

Manfaat Tanaman
Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia.

Batang pisang Abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia.
Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun.