Berawal pada sebuah sore saya dan rekan-rekan lainnya dari sebuah komunitas
untuk
menghadiri undangan acara seminar tentang pentingnya optimasi social media (memang undangan tersebut ditujukan bagi PIC komunitas tertentu) sehingga dapat lebih "melek" lagi di era
digital : seminar tersebut sangat berguna mengingat sekarang ini segala
sesuatu sudah lebih simple dan ter-digitalized.
Sempat terbersit dalam pikiran kenapa yang diundang hanya segelintir orang yang notabene adalah yang memang in-charge dalam komunitas dimana mereka berkecimpung. Kebetulan saat itu memang hanya PIC nya saja yang diundang dalam acara tersebut. Namun setelah beberapa saat mencari beberapa referensi (via google.com, dsb) tentang yang dimaksud akhirnya paham juga.
Bagi sebuah perusahaan tidak dapat dipungkiri keberadaan komunitas adalah sesuatu yang penting. Pentingnya peran dari suatu komunitas baik itu yang terbentuk secara offline maupun online telah disadari dengan baik oleh banyak perusahaan karena mereka dapat memberikan pengaruh yang baik bagi bisnis, memberikan word of mouth (WOM) serta umpan balik bagi perusahaan.
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang
sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu
di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi,
kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa.
Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan",
kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak".
(Wenger, 2002: 4). Menurut Crow dan Allan, komunitas dapat terbagi menjadi 3
komponen: 1). Berdasarkan Lokasi atau Tempat Wilayah atau tempat sebuah
komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana sekumpulan orang mempunyai
sesuatu yang sama secara geografis. 2). Berdasarkan Minat. 3). Berdasarkan Komuni
(yang) dapat berarti ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri (http://id.wikipedia.org/wiki/Komunitas)
Selaras dengan beberapa paragraf diatas akan sedikit
dibahas tulisan dari Everett
Rogers dalam bukunya yang
berjudul “Diffusion of Innovation” – melihat bahwa sebuah
produk inovatif yang masuk kedalam pasar akan memasuki suatu tahapan yang
disebut adoption life cycle. Dijelaskan bahwa produk baru
pertama – tama hanya akan digunakan oleh segmen innovator (yang selalu berambisi mencoba mencoba produk paling
baru), selanjutnya memasuki segmen early adopter (yang rela mencoba-coba
hal yang belum pernah teruji demi mendapatkan keuntungan atau fasilitas yang
ditawarkan dalam kurun waktu promosi tertentu).
Namun, untuk benar-benar menjadi mainstream, produk harus dapat menembus segmen early majority yang konservatif dan
cenderung lebih berhati-hati, walau tak mau ketinggalan. Disinilah titik
dimana banyak bisnis yang mengalami kesulitan untuk berpindah dari segmen early adopter ke early majority sepertinya memang
diperlukan “effort “ yang ekstra keras. Itulah sebabnya pebisnis harus memiliki “ strategi khusus “ untuk menempuh proses itu semua.
Hubungan mengenai adoption
life cycle tersebut dengan konsep pemasaran terkini adalah bahwa setelah Rogers memetakan segmen innovator, early adopter, early majority, late majority dan laggard. Ditemukan bahwa dalam segmen early adopter banyak yang merupakan tokoh komunitas sedangkan dalam segmen early majority adalah sebagai anggota komunitas yang aktif. Sehingga komunitas dapat berpotensi
menjadi wadah yang sangat efektif untuk mempercepat terjadinya edukasi dan
transfer pengetahuan.
Bagi kepentingan sebuah perusahaan; interaksi antara sebuah bisnis dan
konsumen haruslah semakin horizontal. “Banyak konsumen yang
memutuskan untuk menggunakan suatu produk lebih berdasarkan informasi yang
diperoleh dari teman & rekan yang mereka percayai bukan dari perusahaan itu
sendiri (edukasi horizontal / Word of Mouth). Dan medium yang
paling cocok untuk melakukannya adalah komunitas, dimana sudah terbentuk trust relationship yang tinggi antar anggotanya. Dari hal itu
diharapkan perusahaan dapat menjadi konektor bagi komunitas yang relevan dan
memfasilitasi berlangsungnya edukasi pasar yang lebih efektif, yaitu edukasi horizontal antar konsumen.
Communitization yang diharapkan sebagai awal terbentuknya loyal advocate pada sebuah bisnis; dengan peran perusahaan sebagai konektor yang memfasilitasi terjadinya hubungan antar anggota komunitas. Selaras dan senada
tentunya dicapai tujuan akhirnya yakni tercapai revenue yang baik bagi perusahaan.
Namun pula, hal terpenting yang perlu diingat dalam usaha membangun komunitas
adalah konsistensi yang berkesinambungan. Banyak dari perusahaan tidak
konsisten dalam usaha membangun komunitas tersebut. Akibatnya komunitas yang
mereka bangun akhirnya tidak terawat baik dan akhirnya "mati". Padahal kalau mau konsisten merawat komunitas ini, tentunya perusahaan
bisa mendapat banyak keuntungan.
Peliharalah dengan baik komunitas : hasilnya akan berbanding lurus dengan yang diharapkan (revenue) perusahaan.
(dari berbagai sumber dengan beberapa pengembangan)
Salam Belajar ^_^
@fau_fauzi
0 komentar:
Posting Komentar