About

Minggu, 11 Agustus 2013

Arus Balik [Urbanisasi]; "ke Jakarta aku kan kembali"

"Disana rumahku, dalam kabut biru. Hatiku sedih di hari minggu. Disana kasihku berdiri menunggu. Dibatas waktu yang tlah tertentu. ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang kan terjadi"... salah satu lagu dari band Koes Plus yang lumayan akrab di telinga itu; seakan menjadi soundtrack kedatangan para pemudik yang sudah mulai kembali dari kampung halamannya menuju sebuah kota bernama "JAKARTA".

Yupz, hari ini Senin 12 Agustus 2013; ritme kota Jakarta maupun berbagai kota lainnya di Indonesia kembali menggeliat setelah beberapa hari sempat istirahat "liburan Idul Fitri". Jalanan ibukota yang sempat sepi; kini kembali ramai oleh hiruk pikuk beragam aktivitas warganya.

Jakarta dengan segala pesonanya tetap memukau banyak orang utk mendatanginya. Lihat saja prediksi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bahwa jumlah pendatang baru di Jakarta setelah Lebaran meningkat 20% dari total pemudik yang meninggalkan Ibu Kota. Dengan presentasi ini, Kemenhub memperkirakan jumlah penduduk Jakarta akan bertambah 500 ribu - 1 juta orang.

"Dari 4,6 juta orang yang ke luar Jakarta, pada arus balik diperkirakan akan masuk sekitar 5,5 juta orang," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Suroyo Alimoesa, kepada Harian Tempo, hari Minggu lalu (11/8).  Nah pertanyaannya adalah mereka mau kerja dimana? Punya keahlian apa? Tinggal dimana? Silakan jawab dengan versi masing-masing :)

Urbanisasi atau perpindahan penduduk secara berduyun-duyun dari desa (kota kecil, daerah) ke kota besar (pusat pemerintahan) memang bukan cuma setelah lebaran saja; namun jika melihat di berbagai media massa; “heboh” pemberitaannya adalah ketika setelah hari raya Idul Fitri. Selain ke Jakarta, arus urbanisasi menyebar ke kota-kota sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi ataupun ke kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Bandung, Balikpapan, Pekanbaru; hanya saja memang arus utama urbanisasi terbesarnya menuju Jakarta.

Tidak menutup mata, sebetulnya langkah-langkah utk pencegahan membludaknya urbanisasi sudah dilakukan oleh pemerintahan provinsi Jakarta [maupun pemprov lainnya]; semisal himbauan saat mudik untuk tidak membawa saudaranya dari kampung, sampai razia - operasi kependudukan- bagi pendatang yang tidak memiliki kartu tanda penduduk sering dilakukan (operasi yustisi).

Jakarta masih menjadi “magnet besar” yang menarik ratusan ribu orang untuk datang. Faktor penarik terjadinya urbanisasi itu sendiri diantaranya adalah:

  1.  Kelengkapan infrastruktur [sarana dan prasarana] kota yang lebih lengkap
Bolehlah kita sadari bersama bahwa di kehidupan masyarakat desa “yang namanya” sarana pendidikan, sarana kesehatan, pusat hiburan atau pusat perbelanjaan pastinya sedikit: tengoklah Jakarta – berbagai gedung pencakar langit ada , Mall, sarana rekreasi tersebar dimana-mana - tinggal liat isi dompet pilih lokasi lanjut deh cuss jalan-jalan… CMIIW :)

  1. Ketersediaan  lapangan pekerjaan di kota..
Bisa dilihat “fenomena” di kota besar seperti di Jakarta; cukup menggoyangkan botol bekas diisi dengan beras lalu menyanyi seadanya bisa dapat duit,, ada lagi yg "melatih" monyet utk bisa bergoyang-goyang pinggir jalan omsetnya bisa mencapai puluhan ribu [bahkan ratusan ribu saat libur lebaran kemarin]. Sementara; di kampung halaman utk mencari uang sebanyak itu misalnya harus nunggu tanaman panen berbulan-bulan baru deh dapat duit.

Pun demikian dengan pekerjaan formal lainnya banyak tersedia di Jakarta. Sebagai contoh; pernyataan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal: “momen urbanisasi pasca-Lebaran memang bertepatan dengan masa perekrutan karyawan baru di sejumlah perusahaan. "Seminggu setelah hari kerja normal biasanya akan ada perekrutan karyawan baru," kata dia kepada Republika online, Sabtu lalu (10/8).

  1. Keinginan untuk mendapatkan kehidupan lebih layak
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dr Wendy Hertanto MA mengatakan: “pendatang baru, katanya, tanpa keterampilan justru nekad berangkat ke kota-kota besar di Tanah Air lebih di dorong karena para pemudik ketika pulang kampung membawa berbagai aksesoris kemewahan seperti handphone, mobil, kendaraan dan perhiasan yang mereka peroleh di tempat perantauan. "Kendati barang-barang mewah tersebut dirental atau dikredit, dan ketika balik bisa saja barang-barang itu dikembalikan. Namun, hal ini bisa mendorong orang-orang di desa asal para perantau ingin meniru dan merantau dengan harapan sukses,"

Disadari atau tidak; urbanisasi merupakan problematika yang cukup serius. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

Oleh karena itu; ada problematika - mesti ada pula solusinya sehingga kehidupan masyarakat dalam berjalan dengan baik.  Sebagian solusi yang bisa ditempuh untuk “mengurai” permasalahan urbanisasi antara lain:

  1. Pembangunan desa. Ini terkait masalah akses bagi masyarakat desa seperti sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya. Pembangunan fasilitas umum yang memiliki kualitas sama dengan apa yang ada di wilayah kota. Desa atau udik menurut definisi universal adalah sebuah aglomerasi permukiman di area pedesaan. Ia adalah bagian penting dari sebuah negara di Indonesia  Karena desa adalah sumber kehidupan, tempat kita menumpukan harapan terhadap pangan, siklus alam dan lainnya.Jika ini tidak terjaga dan orang desa tetap saja berlomba-lomba pada kehidupan “fatamorgana” di kehidupan kota yang terlihat menjanjikan, bisa dibayangkan bagaimana berbagai ketimpangan yang dapat terjadi di negeri tercinta.
  2. Investasi daerah. Investasi memiliki peran sebagai modal untuk pembangunan suatu daerah. Namun tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan seksama. Salah satunya adalah jangan sampai investasi ini malah disalahgunakan sebagai sarana untuk "menjual" daerah tersebut kepada investor. Investasi dengan berbasis kearifan kepada masyarakat pedesaan dan mengembangkan potensi lokal daerah diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengendalikan urbanisasi penduduk sehingga kelak menciptakan tata kota yang berkualitas.
Pemerataan pembangunan wajib dipikirkan, supaya pikiran masyarakat desa tidak melulu
memikirkan untuk pergi ke Jakarta terus [ataupun ke kota besar lainnya]. Semoga ke depannya seluruh warga negara Indonesia dapat merasakan pemerataan pembangunan; sehingga dapat mengurangi problematika di negeri tercinta. Aamiin.


Salam Pembelajaran
@fau_fauzi

0 komentar:

Posting Komentar