Mudik "mulih ka udik" [pulang ke kampung halaman]. Sebagaimana biasanya di Indonesia tanah air beta beberapa hari menjelang hari Raya Idul Fitri ramai dalam layar kaca selain iklan produk pakaian/makanan ramai juga stasiun TV menayangkan tentang reportase mudik - kalo nggak percaya coba nyalain TV; tiap jam biasanya menayangkan reportase mudik baik itu dari titik rawan macet, rest area - seringnya dari kawasan pantura maupun arah selatan.
Sebenarnya mudik itu sejarahnya dari mana ya? Jika kita baca di beberapa narasumber [misal republika.co.id] ada anggapan dari beberapa ahli mengaitkan tradisi mudik, karena masyarakat Indonesia merupakan keturunan Melanesia yang berasal dari Yunan, Cina. Sebuah kaum yang dikenal sebagai pengembara. Mereka menyebar ke berbagai tempat untuk mencari sumber penghidupan.
Pada bulan-bulan yang dianggap baik, mereka akan mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya mereka pulang untuk melakukan ritual kepercayaan atau keagamaan. Pada masa kerajaan Majapahit, kegiatan mudik menjadi tradisi yang dilakukan oleh keluarga kerajaan. Sejak masuknya Islam, mudik dilakukan menjelang Lebaran. Untuk menguatkan akar mudik berkaitan dengan tradisi Islami, beredar pula argumen makna mudik dalam kajian ala Timur Tengah. Kata "mudik" seperti istilah arab untuk "badui" sebagai lawan kata "hadhory". Sehingga dengan sederhana bisa diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke kampung halaman.
Mudik dari akar kata “adhoo-a” yang berarti “yang memberikan cahaya atau menerangi”. Ini bisa dipahami dengan mudah, bahwa mereka para pemudik itu secara khusus memberikan ‘cahaya’ atau menerangi kampung-kampung halaman mereka. Mudik dari akar kata “Adhoo-‘a”, yang berarti “yang menghilangkan“
Selanjutnya, mudik berasal dari bahasa arab yang berarti : orang yang menghilangkan. Hal ini juga akan mudah kita tangkap, bahwa mereka pemudik itu adalah orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua, keluarga atau kampung halamannya. Karenanya mereka melakukan aktifitas mudik , dalam rangka ‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut. Mudik dari akar kata “ adzaa-qo” yang berarti “ yang merasakan atau mencicipi“. Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran.
Namun believe it or not; kini tradisi mudik lebaran tidak lagi sekadar ajang silaturahmi, tetapi sudah menjadi ajang pamer keberhasilan materi. Mereka yang sukses dan berlimpah materi, memperlihatkan gengsi sebagai ekspresi wah, melampaui mereka yang kalah. Para sosiolog melihat mudik sudah menjadi gaya hidup kelas menengah kota yang berasal dari daerah pedesaan. "Kelas menengah baru" ini sekaligus mengekspresikan keberhasilan mereka dalam pembangunan selama dua dekade terakhir. Apa boleh buat,'' sebagaimana kutipan dari Sosiolog Sunyoto Usman PhD dari UGM
Pendapat yang sama pun diungkap oleh pakar sosiologi komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr Hedi Pudjo Santosa menilai, saat ini telah terjadi pergeseran nilai terhadap trend mudik lebaran di masyarakat. Tradisi mudik lebaran tidak lagi sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ajang pamer keberhasilan kepada keluarga dan kerabat. Pada masyarakat pedesaan, pamer keberhasilan banyak ditunjukkan dengan banyaknya materi yang dimiliki, seperti mudik dengan membawa kendaraan sendiri dan menyumbang kepada keluarga atau masjid di kampung halaman, kata Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Undip ini. Sementara itu, untuk menjalin silaturahmi masyarakat perkotaan memiliki trend baru yakni mengadakan reuni dengan teman-teman sekolah atau kuliahnya. Reuni juga menjadi ajang pamer keberhasilan dengan menunjukkan jabatan atau pangkat.
Balik lagi ke pembahasan mengenai mudik; di kehidupan sehari-hari coba saja cek beberapa hari menjelang Idul Fitri di pusat perbelanjaan; biasanya banyak calon pemudik yang "merapat" ke counter handphone ataupun sentra elektronik lainnya. Bukannya buruk sangka sih -tapi kebeneran saja dulu pernah memiliki sentra handphone jadi sedikit banyak mengetahui perilaku orang-orang yang akan mudik tersebut-
menjelang Idul Fitri berbondong-bondong beli handphone baru entah itu low end; mid end bahkan high end; eh beberapa minggu setelah Idul Fitri betul saja banyak yang menjual kembali handphone yang mereka beli sebelum mudik. Hal serupa juga kalo gak salah terjadi pula di bisnis kredit mobil atau motor [ceritanya serupa tapi tak sama]
Selain trend membeli barang baru kemudian dijual lagi; trend gadai menggadai juga lumayan ramai; dengan dalih "mau pulang kampung takut barang ilang nggak ada yang jaga". Padahal alasan sebenernya kurang lebih untuk mudik membutuhkan pengeluaran yang ekstra. Namun, tidak semua orang memiliki uang yang cukup, baik untuk kebutuhan dalam perjalanan mudik maupun ketika sudah sampai di tujuan. Oleh karena itu, untuk pembiayaan alternatif mudik, banyak orang yang cenderung menjadikan pegadaian sebagai solusi jitu bagi mereka untuk mendapatkan dana instant.
Nah, dari beberapa pemaparan diatas tersirat bahwa kebiasaan mudik selama ini lumayan bergeser dari makna awalnya, yakni bersilaturahmi. Adanya perasaan gengsi atau tidak mau kalah dengan kesuksesan yang diraih saudara atau teman di kampung halaman bisa menjadi salah satu pemicu bahwa persepsi mudik selama ini selalu identik dengan ajang pamer kesuksesan. ~Meskipun tentunya masih banyak pula para pemudik lainnya yang memang mudik karena rindu dengan sanak keluarga dan lebih mementingkan silaturahmi daripada sekedar menjadi ajang pamer semata~
Akan lebih baik bagi kita bersama jika mudik yang pada awalnya memiliki tujuan mulia, yakni untuk saling bersilaturahmi kembali diarahkan ke tujuan semula. Para pemudik jangan lagi mempunyai pikiran bahwa mereka harus membawa sesuatu yang baru setiap kali mudik. Melainkan para pemudik haruslah bersikap apa adanya saja, apabila ada kelebihan finansial tidak salahnya membawakan oleh-oleh buat keluarga yang nantinya bisa membuat mereka senang. Tetapi apabila keadaan finansial kurang menguntungkan nggak usah deh memaksakan diri, pastinya keluarga di desa juga akan mengerti dan mereka sebenarnya juga hanya ingin berkumpul dan bersilaturahmi di hari raya Idul Fitri. Keluarga di kampung halaman bakal masih mengakui kita sebagai keluarga kok meskipun datang tidak "bermewah-mewah"... CMIIW ^_^
Salam Pembelajaran
@fau_fauzi






0 komentar:
Posting Komentar